Awalnya Begini
..............Awalnya Begini..........
by Denevan
Hari kelulusan telah berlalu. Sekaranglah waktu yang pernah ditunggu. Liburan, liburan yang begitu panjang. Malam itu ayahku pulang. Tak terkira, ada rindu yang telah terobati. Ia telah lama merantau dan kini beliau duduk didekatku. Ouuh, aku harusnya senang bukan? Jawabannya iya. Tapi, aku juga merasa risau. Hasil ujian telah diberikan. "Pak, aku gagal nih" ucapku. "Kan kamu,cemen sih" jawabnya. Jangan kaget itu memang tabiat keluarga ini. Keluargaku memang mahal untuk memuji. Setelah menyampaikan nilai,aku ke dapur mengambil minum. Saat itu, bapak memanggilku "Kiyo, sini!". Inilah yang membuatku risau. Aku bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Aku duduk disebelahnya lagi. Berdiam diri sambil memikirkan kalimat yang akan kusampaikan. Perlahan aku mengatur nafasku. Sekarang adalah waktunya berdiskusi. Seminggu lagi pendaftaran SMA/SMK dibuka. Kami telah lama berunding soal ini. Dulu, ayah pernah memberiku poster SMK IT. Wajarlah, pemikiran orang tua umum memang beginu. Kalo cuma dapat kerjaan yang biasa, minimal tambah ilmu agamanya. Terlebih lagi sosok bapakku ini. Beliau sering diundang ceramah. Sampai-sampai dapat panggilan ustad. Bapak memang mahir berbicara. Kepercayaan dirinya tinggi. Beliau pernah membentak keluarga orang lain sendirian. Yaa karena alasan tertentu lah. Bapakku pandai memilih kata². Itu pula yang membuatnya dihormati. Tapi tak pengaruh untukku. Bagaimanapun aku anaknya. Tentu kenal tabiatnya. Sudahlah, kenyataannya aku tak mudah diarahkan. Aku menolak sekolah SMK. Aku tidak peduli berapa teman yang akan berpisah denganku. Pikiranku berdiskusi dengan emosiku. Aku tak suka sering berkeringat. Gak mau kotor. Gak mau capek² amat. Gak mau pegang alat berat. Gak mau diciutin wawasannya. Itu semua kesanku tentang SMK. Entah benar,entah salah. Semua itu ada dipikiranku. Aku nggak ragu lagi. Gue bakal sekolah SMA. Tapi dengan kegagalan UNku. Aku sedikit malas sekolah. Sebab aku harus sekolah dekat lingkunganku. Saat itu pula aku menghela nafasku. Memang begini kenyataannya. Aku tidak jadi hidup di kos an.
Sebenarnya aku sudah tidak asing lagi dengan takdir seperti ini. Takdir yang benar² mengikat seperti kutukan. Selalu terjadi tepat waktu. Meski telah kucoba untuk mengelabuinya. Usahaku benar² tak mencapai impianku. Impian yang dulu sangat nyata terukir. Kini perlahan memudar seperti cat di mainan usang. Kejadian ini persis seperti kalimat seorang tokoh di anime. Hikigaya hachiman, main carakter oregairu. Dia berkata " usaha memang tidak akan mengkhinati hasil, tapi mungkin mengkhianati impianmu". Aku sebenarnya juga tahu. Tidak semua impian bisa jadi kenyataan. Seperti yang sudah berlalu. Banyak impianku yang sekarang kutahu arti sebenarnya mereka. Mereka hanyalan khayalan. Tercipta di angan idealisme. Itu lah mereka. Gambaran kehidupan sempurna yang kuciptakan untuk memberiku semangat. Itu lah mereka. Cerita fiktif yang hanya sebatas hiburan.
............
Sekarang, tiga bulan telah berlalu. Masa hidup pengangguranku akan segera sirna. Kembali jadi pelajar sekolahan. Yahh, aku perlu usaha untuk melakukannya. Wajar saja, biasanya aku hanya di rumah tanpa banyak pikiran. Menonton acara di TV. Menonton anime populer. Jalan² bersama teman. Bahkan, terkadang hanya iseng main ke rumah teman untuk sekedar berjumpa dan bercengkrama. Itu semua kulakukan karena berbagai alasan. Salah satunya karena memang keadaan. Aku mencoba untuk mempertegas syukurku yang mungkin hanya di ucapan. Berharap diikuti oleh hati yang sering emosian. Entah kenapa, aku masih merasa sulit mengikhlaskan. Mengapa takdirku selalu begini? Mengapa selalu saja, impianku jatuh ke sisa² pilihan hebatku? Apa yang salah dengan usahaku. Di awal selalu lancar tanpa hambatan. Namun diakhir selalu terjegal oleh hal yang tak pernah diharapkan. Memang begitulah kisah takdirku. Orang yang mengemban banyak harapan yang sejatinya hanya khayalan. Aku selalu mengalaminya. Takdir yang tidak sesuai harapan seperti ini. Sampai segalanya kuanggap seperti kutukan.
Aku tahu kewajiban kita adalah terus berusaha. Aku belajar giat. Aku tekun mendisplinkan diriku untuk itu. Tryout UN tak pernah aku kehilangan poin bagusku. Aku selalu peringkat utama. Tak pernah goyah atau runtuh oleh saingan yang tak kalah giatnya. Tak hanya diantara kaeanku aku dikenal cerdas. Guru² pun sudah sering mewawancaraiku. Bukankah masuk akal aku percaya diri setelah semua hal itu memang terjadi? Aku dikenal cerdas. Peringkat pertama yang tak pernah terganti. Mengapa di akhir aku malah gagal?
Aku terus merenung tentang apa saja yg sudah terjadi. Aku ingin tahu jawabannya. Mengapa aku akhirnya gagal? Aku ingat masalah² yang kuhadapi di detik² penentuan. Satu minggu sebelum, saat dan sesudah ujian berakhir. Saat itu aku sering belajar bersama dengan teman. Yahh,, itu juga sesuai dengan himbauan kelompok belajar dari smpku. Tak hanya soal belajar kami bersama. Saat² itu kami sering beribadah bersama. Makan bersama, samoai tidur di ruangan yang sama.
Hari itu seminggu sebelum hari pertama Ujian Nasional diselenggarakan. Kami bertiga menginap di rumah Andi. Kami berencana untuk refreshing. Malam itu kami nonton bareng acara horor di televisi. Semacam acara dengan pembawa acara seorang paranormal. Seperti halnya anak muda lainnya. Mencoba hal² yang berbau tren masa kini. Kami berdebat tentang siap yang paling penakut diantara kami. Sekejap kami terlelap segera karena kantuk yang hinggap. Tak terjadi apapun malam itu. Sampai pagi setelah kami terbangun.
Kami bangun lalu berangkat bersama ke masjid. Sholat seperti seharusnya. Setelah sholat kami melakukan hal yang biasa kami lakukan. Kami jalan² pagi bersama. Kami berkunjung ke Taman bermain. Bukan taman mewah seperti di film. Ini hanya taman yang di lengkapi ayunan dan temoat duduk minim. Aku dan Andi adalah orang yang duduk di ayunan. Tersisa sendi yang masih berdiri karena hanya ada dua ayunan. Ia akhirmya memutuskan untuk berdiri di ayunan. Diantara aku dan andi. Satu kaki di ayunan andi. Satu lagi di ayunanku. Membuatnya turut berayun bersama kami. Namun, alas kakinya mengotori pakaianku. Sontak aku memegurnya. Bukan maaf yang ia ucapkan. Ia malah memakiku dengan kalimat hinaan. Dia lalu pergi menjauh. Mejunjukkan muka masamnya kepadaku. Dan ekpresi itu lah yg kulihat sampai akhir UN.
Itulah ingatanku tentang masalah pertamaku. Dimaki oleh teman. Dimusuhi selama aku mencoba belajar giat.
Semua itu membuahkan hasil. Aku gagal meraih nilai sempurna. Aku kalah di saat penentuan. Aku kalah taruhan dengan ayahku.
Beberapa hari setelahnya, aku masih tak banyak kegiatan. Hanya mengingat ingat ingatan kegagalan. Tapi aku mencoba memahami. Mencoba tetap mensyukuri. Mencoba berdamai dari dalam hati.
Bersiap menerima takdir baru yang tak bisa kupilih lagi.
Pagi itu aku bangun dini hari. Bersama dengan keluargaku. Makanan telah dihidangkan. Benar, kami mau makan sahur. Setengah tidur aku membasuh muka. Selepasnya berangkatlah aku ke masjid. Usai sholat aku berbincang dengan temanku. Dia teman satu angkatan,tapi beda sekolah. Ternyata dia memilih SMA impianku dulu. Entah apa yang dipikirkannya, nilainya saja lebih rendah dariku. Tapi terserahlah, itu haknya. Setelah mandi aku berangkat dengan bapak. Saking malasnya, aku hanya membawa pulpen di tas milikku. Sesampainya disekolah, telah ramai orang disana. Orang tua yang ingin segera pulang. Aku bisa menebaknya dari wajah mereka. Tak heran, bapakku juga begitu. Sudah masuk giliranku mendaftar. Tapi ada hal yang mengganjal. Aku ketawa seketika. Berkasku tidak lengkap. Aku keluar ruang daftar untun mencari bapak. Sambil tertawa aku memberitahu masalahnya. Langsung saja aku dimaki. "Hehe" mau gimana lagi pikirku. Ayah segera pulang mengambilnya. Tinggal aku menunggunya. Sembari menunggu aku melihat-lihat. Cukup indah sebenarnya. Banyak tamannya, seperti SMPku. Kini aku tersenyum. Semoga kenyataan ini manis. Tak lama setelahnya, bapak tiba. Aku langsung mengurus pendaftarannya. Selesai dalam sehari. Itu yang kami inginkan. Terlepas dari keterpaksaan ini. Aku berharap ada kisah indah yang terukir nanti.

Komentar
Posting Komentar