Karya dadakan demi UKM
Gelombang
Nostalgia
Oleh : Denevan
Sudah
seminggu, kuhabiskan hariku dengan rutinitas baruku. Memang masih baru, sangat
baru setelah 9 bulan kita bersama. Sembilan bulan yang penuh kekacauan. Canda
tawa kita bersama, sudah usai meninggalkan kenangan. Hari- hari yang dulu penuh
kepura-puraan sudah selesai kita dramakan. Sekarang hariku suram. Siang dan
malam tak banyak berbeda. Aku hanya menghabiskannya dengan banyak terlelap.
Kadang aku bermimpi, aku bermimpi mengingat kenangan kita yang dulu. Saat
hariku kau kacaukan dengan banyaknya keluhanmu. Saat aku bangun di pagi hari
karena pesan spam dan teleponmu yang sudah tak terjawab 5 kali. Hariku mulai
terlihat suramnya. Aku memikirkan kamu yang pasti sedang marah-marah di
kamarmu. Aku memikirkanmu yang pastiakan mengomeliku. Aku memikirkan kamu yang
sekarang tak mau lagi menyapaku.
Dulu hariku
sering dimulai seperti itu. Dimulai dengan aku yang memikirkan alasan untuk
menjawab semua omelan memuakkan itu. “Maaf ya aku ketiduran”. “ boong, kamu
sengaja kan? Gak angkat teleponku?” “enggak, aku baru bangun tidur”. “ alah
boong, aku nungguin kamu dari tadi tauu?” “iya, maaf ya sayang”. “ emm...dah
buruan bangun sono,”.
Segera aku bangun dari tempat
tidurku. Melakukan rutinitas pagiku yang lainnya.
Begitulah rutinitas pagiku yang
dulu. Sekarang, aku bangun sesukaku tanpa kamu yang dulu suka
membangunkanku.
Sekarang,
sudah tahun ketiga masa mudaku di SMA. Masa-masa yang pasti sibuk dengan urusan
mendapatkan ijazah. Kegiatan komunitas yang berkurang. Tapi kegiatan belajar
yang membosankan kian bertambah. Sungguh saat yang tepat untuk rutinitas hidup
baruku. Belajar tiap malam dengan banyak berkhayal tentang masa depan. Perihal
kuliah dan kampus impian yang selalu diganggu hadirmu dipikiran. Kemarin malam
contohnya. Aku tak sengaja memikirkanmu di saat belajar fisika. Aku ingat betul
bab yang ada di semester 2 kelas 11. Bab termodinamika tepatnya. Waktu itu
malamku sebelum ulangan harian. Kamu bertanya padaku lewat pesanmu di WA. “lagi
apa?”. Aku menjawab “lagi belajar nih, besok ulangan”. “Ooh...belajar apa?”.
Aku jawab “ belajar fisika nih. Banyak banget konsepnya ”. Itu hal wajar bagi
anak MIPA di kelas 11 menyebutnya konsep bukan dengan sebutan rumus. Itu karena
guru fisika kami mengharuskan kami mengatakannya begitu. Giliran kamu menjawab
“emm...rasain.” aku pun menjawab “ hemm....tenang aja aku ada trik biar hafal
konsepnya”. “Masa? Gimana?“. “ gampang, tinggal inget kamu aja...hehe”. “ha?kog
bisa?”. “ iya, babnya kan termodinamika. Ada konsep yang relate ma aku kamu.” “
ish...(kamu kasih emot sebel) gimana sih?”. “ iya inget kamu cukup kog. Kan
konsepnya Qu= m.enc.in∆taimu”. Kamu diam saja dan hanya membalasnya dengan
“emm....yaudah buruan belajar”. Hanya itu dipesan yang kamu kirim. Tapi aku
tahu, kamu sedang senyum-senyum sendiri di kamarmu. Aku tau itu. Aku pernah
memergoki kamu begitu saat kita jalan bersama dulu. “JEDUG” kepalaku terpeleset
dari sanggaan tanganku. Aku langsung melihat kebawah meja belajarku. Mencari
bolpoin yang kupegang untuk menulis sedikit catatan. Akhirnya kutemukan bolpoin
itu. Sesaat setelah aku sadar dari lamunan kutadi. Aku sebenarnya sadar itu
hanya lamunan. Entah semirip apa kata itu dengan renungan. Tenang saja, aku
juga sadar itu semua hanya kenangan. Entah bagaimana menamainya antara indah
dan duka.
Sudah beberapa
jam yang lalu sejak aku mulai belajar. Aku masih belajar fisika. Pelajaran yang
terkenal banyak perhitungannya. Melelahkan memang, apalagi puluhan konsep yang
harus dihafal diluar kepala. Kadang aku ingin menjawab ketika ibu guru
mengatakannya. “ udah dihafal di luar kepala kog bu, udah tersimpan dengan baik
di flashdisk kami”. Tapi aku tak pernah mewujudkannya dalam kenyataan.
Sudah
hampir tengah malam sekarang. Aku masih saja duduk di depan meja belajarku.
Masih dengan buku yang sama, fisika. Pelajaran yang sering menghabiskan
waktuku. Kadang aku berpikir ini menyenangkan. Belajar tentang hakekat
kehidupan. Tentang seluruh fenomena yang
terjadi di kehidupan. Lalu memanfaatkannya untuk menata kehidupan modern.
Sungguh menakjubkan memang ketika dipromosikan.
Sekarang
jam 23.34 WIB. Aku belum pindah dari posisiku belajar. Meski hanya tiga langkah
untuk sampai di kasur nyamanku. Aku terus memikirkan dirimu dan pelajaran
fisikaku. Terngiang-ngiang bisikan-bisikan lembut dikepalaku.
Hukum I
Newton menyatakan “ benda akan tetap diam jika tidak dipengaruhi gaya”. Sama
seperti hubungan kita sebelumnya. Terus tersendat banyaknya gaya gesek
kesalahpahaman dan akhirnya tak bisa jalan lagi. Sama juga dengan saat ini.
Hidupku yang belum bergerak mencari orang lain pengganti dirimu karena tak ada
gaya yang sanggup mendorong ataupun menarikku. Tak apa lah, bukankah ini hal
wajar. Aku sedang berada di situasi rasa hampa kehilanganmu. Kehilangan yang
seakan tak bersisa. Cahaya tak sanggup meneranginya. Suara tak bisa dirambatkan
gelombangnya. Tidak ada apa-apa. Hanya aku yang juga terasa tak berarti lagi.
Semua sudah tak ada. Sudah HAMPA.
Hukum II
Newton menyatakan “ a = F/m . Percepatan berbanding lurus dengan gaya. Namun
berbanding terbalik dengan masa”. Sama seperti kita dulu percepatan kita usai
karena bobot ketidaknyamanan yang terus bertambah besar. Sampai tak sanggup
lagi untuk dipertahankan. Begitulah kita, mungkin aku memang bisa di salahkan.
Sebab aku memang tak mau ribet bergaya untuk terus menarik hatimu. Begitulah
kenyataannya. Percepatan kita untuk segera usai.
Hukum III
Newton menyatakan sesuatu yang sangat menarik “ F aksi = -F reaksi'’. Sebesar
apapun aku mencoba melupakanmu, semakin aku mengingatmu. Menarik bukan? Lalu
kupikir ini sebab hukum itu. Selanjutnya kucoba sebaliknya. Aku ingin sekali
mengingat tentangmu agar hasil reaksinya semakin melupakanmu. Tapi entah kenapa
Hukum III Newton tak bekerja. Aku juga tak tau mengapa. Aku pernah berpikir.
Apakah teori relativitas Einstein ada hubungannya?. Teori yang kupelajari
baru-baru ini di bab fisika kuantum. Teori relativitas ini juga sangat menarik.
Fisika yang terkenal belajar ideal malah memunculkan teori tentang relatifnya
hal. Tak bisa dipungkiri, ini memang teori yang bisa disebut romantis. Seperti
rasa sayang yang relatif. Saat kubandingkan kamu dengan orang lain.
Aneh bukan,
padahal kita sudah berhasil keluar dari black hole lubang hitam friendzone.
Usaha yang begitu besar. Entah berapa
cepatnya kita kala itu. Kini kita sudah tak bersama. Mungkin saja kita kembali
ke black hole frinedzone itu nantinya.
Tapi masih saja aneh bagiku.
Apalagi ketika aku yang sekarang ini seperti kecanduan lagu Raisa. “ terjebak
nostalgia.....” itu adalah kalimat Raisa yang sering kudengarkan.
Jam 23.49
sekarang. Aku semakin banyak memikirkanmu saja. Aku ingat materi interferensi
gelombang. Dahulu kita berpikir berfrekuensi sama. Sehingga kita dapat
membentuk interferensi konstruktif. Kita dulu begitu kan? Saling menguatkan.
Tapi entah sejak kapan periode kita saling bertolak belakang. Periodemu semakin
besar, semakin lama kamu merespon setiap pesan WAku. Sampai akhirnya gelombang
kita berubah berinterferensi destruktif.
Sekarang
jam 00.00 kurang lima menit. Sebenarnya aku masih belum mengantuk. Tapi aku sadar
mana yang baik untuk tubuhku ini. Aku memutuskan untuk tidur. Aku berdiri dan
memutar badanku diikuti tiga langkah ke kasur nyamanku. Aku berbaring dengan
segera menggapai selimutku. Aku masih terbawa suasana. Terus- terusan
memikirkan kisah asmara kita. Sekarang, aku berandaiandai ending yang berbeda
dari kenyataan. Aku berkhayal tingkat tinggi. Sampai memang tak kan sanggup tuk
digapai. Detik pun berlanjut berganti menit hingga jam seperti seharusnya.
Entah jam berapa sekarang ini. Sudah begitu panjang khayalanku sampai tak
sanggup lagi kuceritakan semua. Ada senyummu, ada senyumku. Ada hari penuh
kebahagiaan. Segala hal yang tak mungkin jadi kenyataan.
Sekarang,
mataku perlahan terlelap. Perlahan, kesadaranku terlahap. Sesaat sebelum
akhirnya tertidur, aku teringat sedikit kalimat seorang teman. Dia adalah teman
yang jarang kulihat wajahnya. Suatu hari dia bertanya padaku. “Kau tau cinta
yang paling romantis? Itulah cinta yang tak pernah terjadi”

Komentar
Posting Komentar