Malam ku yang ke-lupa.

Malam ini aku mengingatmu dan dirinya. Padahal aku ingin membaca, merampungkan bacaan yang kau pilihkan untukku. Aku membaca dengan banyak jeda. Sewajarnya, entah sejak kapan mataku mudah lelah. Apa karena tadi siang aku tak terpejam karena memaksa?entahlah. Malam ini seharusnya dingin. Setidaknya lebih dingin dari siang. Tapi tidak demikian, siang tadi lebih dingin. Sebab aku di ruangan ber AC, haha. 

Hemm, bacaanku belum selesai. Setiap jeda yang kulalui, ada lagu yang mengiringi. Tak seperti di bacaan pilihanmu ini, lagu-lagu yang diputar tak menentu indie. Mereka acak, sebab aku enggan membayar pajak. Percayakah engkau saat kubilang kepalaku banyak membual? ini buktinya. Malam ini aku membayangkan wajahmu dan dirinya. Apa kau mengukutukiku bila kubilang aku mengingat-ingat masa laluku dengannya? karena sekarang aku melakukannya. Aku melakukannya juga saat pertama kali kita jalan-jalan bersama dengan sengaja. Kala itu aku merasa baru kemarin aku dengannya, dan berpisah darinya. Dengannya aku membayangkan banyak skenario yang menorehkan senyum setiap penontonnya. Hanya aku disini, menonton lamunanku sendiri. Kau mengenalku. Aku orang yang enggan memikirkan masa lalu dan larut di dalamnya. Bagiku tak ada penyesalan yang abadi. Sesal itu ada dan memang datang belakangan. Namun, sesal itu fana. Karena setiap pertemuan pastilah berharga. Pertemuanku dengannya tak akan bisa dikecualikan. Maka demikian, kusimpulkan dirinya yang pergi itu tetap berharga. Lalu hadirnya pastilah bermakna. 

Skenario yang kumaksud adalah apa yang kita lakukan saat itu, Jalan-jalan berdua, ke tempat tinggi dan dingin yang tak biasa kita dapat di tengah kota. Meminum secangir jahe susu berdua. Menyendok bulatan daging dan tepung dengan kuahnya yang sedikit itu. Duduk berdampingan menatap perbukitan hijau yang jadi gelap karena datangnya malam. Saat berangkat, aku mendambakan yang hijau itu. Tapi semesta mengajarkan kita tidak untuk serakah. Maka kita nikmati saja langit senja yang merah merekah. Juga gemerlap lampu rumah-rumah yang menyala bagai kunang di kejauhan. Ya, kau benar. Aku yakin kau benar. Benar-benar mengingat dan menerka dengan tepat moment itu di kepalamu. Maka ini akan jadi salah satu pengakuanku. Lagian kau yang berulah. Beraninya dengan sengaja menanyakan perasaanku. Perasaan berpisah darinya yang tak sanggup lagi menghadapi ego ku. Yahh, semenyebalkannya dirimu, aku tak mungkin sanggup marah padamu. But, yes. anda berhasil mengungkit memori tentangnya dalam diriku. Tak perlu dijelaskan detail bagaimana aku membayangkan dirinya saat bersamaamu. Intinya aku bertanya tanpa suara, "ahh, bukankah tadinya seharusnya dia yang ada di sampingku?". 

Aku selalu kebingungan soal rasa dan perasaan. Maka setiap orang bertanya tentang rasa yang bukan ada di lidah, aku selalu bilang "rasa yang kau maksud itu semu". begitu terus kalimat yang keluar agar aku bisa menghindar. 

Seperti di resto dengan view perbukitan itu, malam ini aku teringat dirimu dan dirinya. Lagi-lagi batinku berkata tanpa suara.

"Sungguh bila memang aku melukaimu dan dirinya bergiliran, kutuk saja aku mati rasa."

Kalau pun harus kulanjutkan mungkin seperti ini. "Biar padam nyala kemunafikan nafsu ku ini. Dirinya marah padaku, sementara kau masih diam tak mau memberitahuku. Aku bertanya dalam hatiku setiap mengingat dirinya dan kamu, apa kamu marah sepertinya terhadapku? Sungguh aku juga tak tau kenapa rasanya ada pilu."

Aku masih istiqomah, tak mengerti soal rasa. Khusunya yang lima kata itu. C-I-N-T-A. Eiyuhhh, merinding bulu kudukku setiap menyebut jenis rasa yang itu. hiiiiiii. Rasa yang tak pernah jelas definisinya. Tapi banyak yang menyebutkannya. Mana beda-beda lagi. Ada yang "Cinta itu buta dan tuli", Ada yang (nanti lanjut referensi lagu cinta). Sampai "Cintaaa ituu, kadang-kadang tak ada logikaa". Hehe. Aku tetap tak tau mana yang benar, Non. Apa iya semua benar? ntar di komen loh. "yang bener aje? rugi dong" eakk. hehe. Intinya aku tak tau apa itu cinta? Kalau pun ada yang nanya, bakal aku jawab kalau itu adalah judul film. 

Aku yang tak mengerti cinta itu apa. Tak akan berani bilang cinta padamu atau pada manusia  fana lainnya. Bagaimana aku mau mengerti. Ambil nih contoh, "Cinta itu akan menjadikan yang pelit jadi dermawan". Hellowww, saya dari dulu memang diajarkan jadi dermawan. Bersedekah dalam keadaan lapang maupun sempit. So, kok bisa saya cinta seseorang karena sudah dermawan dari kecil? gak fair lah. Terus lagi nih, "Cinta itu merubah yang pengecut jadi pemberani" ini nih, Bund, yang aku gak cocok. Kalau bener kata yang lain-lain, dimana cinta itu perasaan mendalam pada seseorang. Disclaimer, kita sekarang coba bahas cinta romantis ya. Lanjut, kalo iya, cinta itu perasaan mendalam pada seseorang yang euhh gitu deh. Kamu juga ngerti stigma tentang cinta yang kumaksud. Saking banyaknya, aku males nulis satu per satu. Intinya nih, kalo aku make anggepan banyak stigma cinta itu dan ku sambungin sama yang pengecut dan pemberani tadi, endingnya gak nyambung. Apa yang muncul dibenakku berbeda. 

"The more I love someone, the more I hate myself:

Tapi belakangan aku sadar beberapa faktor penyebab jalan pikiranku yang ini. Intinya nih, aku belum cukup mapan untuk mengemban tanggungan menjadi orang yang dicinta. Jadi saya minder, hehe. Membayangkan banyak kemungkinan buruk yang harus dihadapi, aku merasa belum mampu mengantisipasi. Jadi selama itu, sepertinya aku akan tetap merinding menyebut kata CINTA. 

Jadi, mari bersabar dengan keadaan. Biar sekarang kita usahakan. Kalau memang nanti tidak kudapati dirimu jadi kekasihku dunia akhirat, aku ikhlas. Sama seperti tanyamu padaku di hari yang aku tak ingat tanggalnya. Kau bertanya, "Apa tak apa bila nanti yang kita temui, malaikat Izroil duluan?" aku menjawab, "Ya" dan berdoa dalam batinku "semoga Tuhan meridhoi segalanya". 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Case twitter my luv

Awalnya Begini

Kamu panggil namaku:)